Review Perusahaan Berutang, Bagus atau Tidak?
Berutang, apakah sebuah pilihan?
Nama penulis: Yohanis Hans Kwee
Judul Tulisan : Perusahaan Berutang, bagus atau
tidak?
alamat website : https://m.kontan.co.id/news_kolom/907/perusahaan_berutang@-bagus-atau-tidak*
Reviewer : Agus Gunawan
(1706111280)
Di
dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang
namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada
pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan,
ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang
dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga
mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari
orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.
Banyak
orang memang berpikir, bila ada saudara, teman atau tetangga mulai meminjam
uang jadi indikasi sedang menghadapi masalah keuangan. Banyak yang khawatir
ketika ada saudara atau teman mulai meminjam uang, karena takut uang tersebut
tidak bisa dikembalikan. Berangkat dari pemahaman dan peristiwa ini, banyak
investor juga berpikir, ketika perusahaan mulai meminjam uang, berarti ada
indikasi masalah keuangan. Perdebatan panjang dimulai dari tulisan Franco
Modigliani dan Merton Miller di tahun 1958 tentang teori kapital struktur
perusahaan. Kapital struktur sendiri mengacu pada komposisi perbandingan utang
dan modal untuk mendanai aktivitas perusahaan.
Menurut
Modigliani dan Miller, struktur modal tidak relevan mempengaruhi nilai sebuah
perusahaan. Pendapat ini dikenal sebagai teori irrelevant MM. Teori MM ini
banyak mendapat kritik akibat asumsi yang didasari pasar modal sempurna, di
mana tidak ada biaya transaksi, pajak pribadi dan perusahaan, serta pasar yang
efisien secara informasi.
Baik keuangan pribadi maupun
perusahaan, tak asing dengan istilah berutang. Terlebih lagi di dunia usaha,
utang seolah sudah menjadi kebutuhan pokok untuk bisa menjalankan dan mengembangkan
perusahaan.
Sehingga, hampir sebagian
besar perusahaan yang dijalankan dan dikelola dengan menarik utang untuk
menambah modalnya. Sebab, minimnya modal kerap menjadi penghambat perputaran
keuangan untuk menggerakkan perusahaan.
Berikut ini
resiko berutang jangka panjang:
1. Adanya resiko penurunan nilai saham
Risiko penurunan
nilai saham ini biasanya akan berlaku bagi perusahaan dalam skala besar yang
telah menjual saham mereka di pasar saham. Besaran nilai utang bisa saja
memengaruhi nilai jual saham di pasar, di mana jumlah utang yang besar
kemungkinan akan membuat nilai saham menjadi turun.
2.
Resiko pelunasan utang
Kemampuan perusahaan
dalam melunasi utang tentu akan sangat tergantung pada kinerjanya. Risiko itu
selalu ada dalam perkembangan kinerja perusahaan, walaupun perusahaan telah
menerima sejumlah suntikan dana dalam bentuk utang jangka panjang.
3.
Bisa membebani keuangan
Semua jenis utang tentunya
merupakan beban. Utang jangka panjang ini juga akan membebani keuangan di masa
yang akan datang. Bukan hanya pokok utang saja, beban biaya serta bunga juga
akan membebani keuangan terutama bila perusahaan tidak menunjukkan kinerja yang
baik.
4.
Beban pengeluaran bulanan menjadi tinggi
Jumlah utang yang besar ini akan
berbanding lurus dengan jumlah cicilan yang cukup besar dan berlangsung lama. Pun
demikian, sejumlah risiko yang terdapat pada utang jangka panjang ini tetap
bisa diatasi dengan baik, terutama jika pihak manajemen perusahaan memiliki
kemampuan yang baik dalam mengelola utang tersebut.
Jadi,
manakah perusahaan yang lebih baik, perusahaan yang tidak punya hutang sama
sekali, atau perusahaan yang menggunakan hutang sebagai penambah modalnya? Mari
kita coba bandingkan keduanya.
1. TAX
SHIELD
Tax Shield merupakan istilah ekonomi yang dipakai untuk pengurang
penghasilan yang dikenakan pajak. Pajak yang dibayarkan
perusahaan yang mempunyai hutang lebih kecil jika dibandingkan dengan
perusahaan yang tidak mempunyai hutang. Karena hal inilah, mengapa banyak
perusahaan yang mau menggunakan hutang untuk membesarkan usahanya (daripada
menambah modal).
2. MENJAGA EARNINGS PER SHARE
Selain sebagai pengurang pajak, hutang
juga menjaga EPS (earnings per share) lebih besar. Mengapa bisa demikian?
Perusahaan A akan lebih menarik bagi
investor karena memberikan EPS yang lebih besar daripada perusahaan B yang
menggunakan modal sendiri untuk membiayai proyek nya. Selain itu, bunga
pinjaman perusahaan A dapat digunakan sebagai pengurang pajak penghasilan,
sehingga pajak yang dibayar oleh perusahaan A lebih kecil daripada pajak yang
harus dibayar oleh perusahaan B. Namun perlu diperhatikan bahwa return dari proyek yang dikerjakan harus lebih
besar daripada cost of capital(bunga pinjaman) sehingga perusahaan
memperoleh keuntungan.
3.
LEVERAGE
Leverage adalah suatu tingkat kemampuan perusahaan dalam
menggunakan aktiva dan atau dana yang mempunyai beban tetap (hutang dan atau
saham istimewa) dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan untuk memaksimisasi
kekayaan pemilik perusahaan.
4.
THE BOTTOM LINE
Hutang memang cara
yang baik untuk membesarkan perusahaan dalam waktu singkat, namun harus
digunakan dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jika salah
perhitungan, maka kerugian yang ditimbulkan juga sangat besar.
Referensi: https://m.kontan.co.id/news_kolom/907/perusahaan_berutang@-bagus-atau-tidak*

Terima kasih, tulisan anda sangat membantu👍🏻
BalasHapusTerimakasih gan, sanagat bermanfaat
BalasHapus